SELAMAT ULANG TAHUN PT. Central Proteinaprima Tbk. KE-35 TAHUN SEMOGA SUKSES DAN BERJAYA Nemo Wagging Tail

bendera

bendera

Selasa, 19 Mei 2015

Upaya Anak Bangsa dalam Mengelola Perikanan Indonesia

    Disini saya akan membahas mengenai Perikanan Budidaya di Indonesia. Yang mana kita ketahui negara Indonesia merupakan negara maritim yang pemerintahnya sedang membangun maritim yang kuat dan terbesar. Dari letak wilayah Indonesia secara geografis 60 LU - 110  LS dan 950 BT - 141 0 BT berada di garis khatulistiwa yang mana begitu banyak kekayaan alam didalamnya. Dengan luasnya lautan yang kita miliki, banyak potensi kekayaan laut yang dapat kita manfaatkan untuk kesejahteraan rakyat Indonesia. Mengingat potensi sumber daya laut yang kita miliki sangat besar, maka kekayaan laut ini harus menjadi keunggualan kompetitif Indonesia, yang dapat menghantarkan bangsa kita menuju bangsa yang adil, makmur, dan mandiri. Potensi fisik wilayah pesisir dan lautan Indonesia dipandang dari segi fisik, terdiri dari perairan Nusantara seluas 2.8 juta km2, Laut teritorial seluas 0.3 juta km2. Sektor perikanan merupakan sektor strategis dalam perekonomian Indonesia mengingat Indonesia memiliki potensi kelautan dan fishing ground yang sangat luas. Selain itu, keanekaragaman biota di laut Indonesia yang sangat beragam menambah potensi ekonomi tinggi bagi bangsa Indonesia. Namun demikian, sifat industri perikanan tangkap yang open acess telah memunculkan adanya isu over fishing. Kondisi tersebut tentu sangat mengkhawatirkan karena secara ekonomi dapat menimbulkan inefisiensi serta penurunan stok sumber daya perikanan.
 Pemerintah Indonesia bertanggungjawab menetapkan pengelolaan sumberdaya alam Indonesia bagi kepentingan seluruh masyarakat, dengan memperhatikan kelestarian dan keberlanjutan sumbe rdaya tersebut. Hal ini juga berlaku bagi sumberdaya perikanan, Penangkapan berlebih atau ‘over-fishing’ sudah menjadi kenyataan pada berbagai perikanan tangkap di dunia - Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) memperkirakan 75% dari perikanan laut dunia sudah tereksploitasi penuh, mengalami tangkap lebih atau stok yang tersisa bahkan sudah terkuras - hanya 25% dari sumberdaya masih berada pada kondisi tangkap kurang (FAO, 2002). Total produksi perikanan tangkap dunia pada tahun 2000 ternyata 5% lebih rendah dibanding puncak produksi pada tahun 1995 (tidak termasuk Cina, karena unsur ketidakpastian dalam statistik perikanan mereka). Sekali terjadi sumberdaya sudah menipis, maka stok ikan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk pulih kembali, walaupun telah dilakukan penghentian penangkapan.

  Untuk memajukan perikanan budidaya Indonesia, maka dibutuhkan suatu pengelolaan Sumberdaya Perikanan Berbasis Masyarakat (CBFM).
Pengelolaan Berbasis Masyarakat atau biasa disebut Community Based Fisheries Management (CBFM) merupakan salah satu pendekatan pengelolaan sumberdaya alam, misalnya Perikanan, yang meletakkan pengetahuan dan kesadaran lingkungan masyarakat lokal sebagai dasar pengelolaannya. Pengelolaan Perikanan Berbasis Masyarakat (CBFM) adalah sebagai suatu strategi untuk mencapai pembangunan yang berpusat pada manusia, di mana pusat pengambilan kebijakan mengenai pemanfaatan sumberdaya alam secara berkelanjutan di suatu daerah terletak/ berada di tangan masyarakat di daerah tersebut. Dalam sistem pengelolaan ini, masyarakat diberikan kesempatan dan tanggung jawab dalam melakukan pengelolaan terhadap sumberdaya yang dimilikinya, di mana masyarakat sendiri yang mendefinisikan kebutuhan, tujuan dan aspirasi nya serta masyarakat itu pula yang membuat keputusan demi kesejahteraannya.

   Nijikuluw (2002), menyatakan CBFM dapat dikembangkan melalui tiga cara:
1. Pemerintah beserta masyarakat mengakui praktik-praktik pengelolaan sumberdaya perikanan yang selama ini dilakukan oleh masyarakat secara turun temurun dan merupakan adat atau budaya yang dianut selama ini; nilai budaya tetap dijaga, kebijakan pengelolaan berdasarkan nilai budaya setempat.
2. Pemerintah dan masyarakat menghidupkan kembali atau merevitalisasi adat dan budaya masyarakat dalam mengelola sumberdaya perikanan. Adat dan budaya tersebut barangkali telah hilang atau tidak digunakan lagi karena berubahnya zaman dan waktu. Meski demikian, masyarakat dan pemerintah menyadari bahwa adat dan budaya itu perlu dihidupkan lagi karena ternyata hilangnya adat dan budaya tersebut tidak membuat masyarakat semakin sejahtera;
3. Pemerintah memberikan tanggung jawab sepenuhnya dari wewenang pengelolaan sumberdaya kepada masyarakat.

Sebagai suatu model, pengelolaan sumberdaya perikanan berbasis masyarakat memiliki keuntungan, yang tentunya harus diperhatikan manakala kita mengembangkan sebuah model CBFM sumberdaya perikanan. Beberapa kelebihan (nilai-nilai positif) dari model CBFM ini adalah:

1.      Mampu mendorong pemerataan (equity) dalam pengelolaan          sumberdaya perikanan.

2.      Mampu merefleksikan kebutuhan masyarakat lokal yang                spesifik.

3.      Mampu meningkatkan manfaat lokal bagi seluruh anggota            masyarakat yang ada.

4.      Mampu meningkatkan efisiensi secara ekonomi dan                      ekologi.

5.      Responsif dan adaptif terhadap variasi kondisi sosial dan               lingkungan lokal.

6.      Masyarakat lokal termotivasi untuk mengelola sumberdaya            secara berkelanjutan.

       Dalam bidang industri perikanan ini, banyak hasil tangkapan laut yang di ekspor keluar negeri, misalnya PT. Central Proteinaprima Tbk. ("CP Prima") merupakan salah satu produsen dan pengolah udang terintegrasi terbesar di dunia yang bermarkas di Jakarta. CP Prima merupakan pemimpin pasar Indonesia dalam produksi benur, pakan udang dan pakan ikan. Produk CP Prima meliputi udang beku, pakan udang, benur dan probiotik. Perusahaan ini didirikan pada tahun 1980.
  Lebih dari 70.000 hektare lahan tambak udang yang dibudidayakan di 3 lokasi yakni PT Central pertiwi Bahari, PT Aruna Wijaya Sakti, dan PT Wachyuni Mandira. CP Prima menyediakan lapangan kerja kepada lebih dari 10.000 orang termasuk karyawan penuh dan paruh waktu. Perusahaan ini memproduksi udang bermutu tinggi dengan menjamin rekam jejak produk melalui pembudidayaan bibit udang yang bebas penyakit, memproduksi pakan udang bermutu, memanen, mengolah, menyimpan dalam suhu dingin, dan mengirimkan produk-produk yang berkualitas ke luar negeri.